Posted: November 10, 2009 in Uncategorized

MAKALAH

ILMU SOSIAL DASAR (ISD)

URBANISASI PASCA LEBARAN

NAMA    : ANDRY RISNANDAR

KELAS   : 1KA26

NPM  : 10109410


UNIVERSITAS GUNADARMA

KAMPUS J KALIMALANG


Mata Kuliah  : Ilmu Sosial Dasar (ISD)

Dosen  : Muhamad Burhan Amin

Topik Tugas  : Urbanisasi Pasca Lebaran

Kelas   : 1KA26

Deadline Tugas          : 6 Nopember 2009

Tanggal Penyerahan & Upload Tugas       : 6 Nopember 2009


PERNYATAAN

Dengan ini kami menyatakan bahwa seluruh pekerjaan dalam tugas ini kami buat sendiri tanpa meniru atau mengutip dari tim / pihak lain

Apabila terbukti tidak benar, kami siap menerima konsekuensi untuk mendapat nilai 1/100 untuk mata kuliah ini.

Penyusun

NPM Nama Lengkap Tanda Tangan
10109410 ANDRY RISNANDAR

Program Sarjana SI (Sistem Informasi)

UNIVERSITAS GUNADARMA

KATA PENGANTAR

Fenomena mudik memang sudah menjadi tradisi bagi setiap orang yang merantau ke kota – kota besar.Karena alokasi dana untuk melakukan mudik yang sering kali tak rasional, banyak pemudik yang menghabiskan tabungannya untuk berlebaran di kampung yang akhirnya tertutup kemungkinan untuk mengakumulasi modal disaat orang – orang kembali melakukan yang namanya arus balik atau biasa kita sebut urbanisasi.

Urbanisasi memang mempunyai perubahan struktur ekonomi dimana perbedaan upah didesa dan dikota sebagai variable yang tetap yang mempengaruhi arus urbanisasi. Lapangan pekerjaan dipedesaan yang semakin berkurang seiring dengan menyempitnya areal pertanian akibat tekanan industrialisasi.

Dengan istilah lain, mudik menjadi jembatan perantara yang efektif untuk mewadahi hasrat orang – orang desa melakukan urbanisasi ke kota dengan tujuan mendapatkan penghidupan yang layak dan menjadikan hidup dikota sebagai harapan tersendiri.

DAFTAR ISI

PERNYATAAN…………………………………………………………………………….…2

KATA PENGANTAR………………………………………………………………………….3

DAFTAR ISI………………………………………………………………………………..…4

BAB I PENDAHULUAN…………………………………………….………………………5

1.1  LATAR BELAKANG…………………………………………………………………….5

1.2  TUJUAN…………………………………………………………………………………..6

1.3  SASARAN…………………………………………………………………………………6

BAB II PERMASALAHAN…………………………………………………………………..7

2.1 KEKUATAN………………………………………………………………………………7

2.2 KELEMAHAN…………………………………………………………………………….8

2.3 PELUANG…………………………………………………………………………………8

2.4 TANTANGAN…………………………………………………………………………….8

2.5 SOLUSI……………………………………………………………………………………8

BAB III PENUTUP……………………………………………………………………………9

3.1 KESIMPULAN……………………………………………………………………………9

3.2 REKOMENDASI………………………………………………………………………….9

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Mudik menjadi kata yang paling ditunggu-tunggu menjelang penghujung ramadhan. Bagaimana tidak, tradisi pulang ke desa untuk sementara waktu ini di anggap membawa simbol-simbol tersendiri, khususnya bagi perantau. Selain sarat ranah sosial dan religius, mudik identik dengan fenomena ekonomi. Maksudnya, selain sebagai ajang berkumpul dengan keluarga, ada semacam bentuk “pamer status” yang dalam hal ini bersifat ekonomi. Pulang kampung adalah taruhan keberhasilan seorang pemudik. Akan ada rasa malu jika mudik dengan tangan kosong. Maka kita lihat, banyak perantau yang sudah berhasil atau tidak sengaja memoles dirinya dengan simbol-simbol peningkatan status ekonomi. Namun, penonjolan status tersebut membawa efek lanjutan bagi penduduk pedesaan bahwa kota adalah jalan menuju jalan kehidupan yang lebih baik.

Melihat banyaknya orang yang berbondong-bondong untuk mudik, sebenarnya sekaligus menelanjangi sebuah fakta kesenjangan antara desa dengan kota. Ini tidak terlepas dari adanya dikotomi pemahaman yang terdistorsi tentang makna maju dan tertinggal. Pembangunan yang lebih menitikberatkan pada perkotaan kemudian secara tidak sengaja menimbulkan anggapan bahwa kota adalah lambang kemakmuran dan pedesaan sebagai simbol keterbelakangan. Padahal, belum tentu seorang penduduk tidak bisa sukses di desa. Desa kemudian menjadi anak tiri pembangunan sehingga jarang mendapat sentuhan perhatian kasih sayang dari pemerintah.

Dikarenakan pertumbuhan ekonomi yang tidak merata, akan timbul fenomena urbanisasi. Perpindahan penduduk desa ke kota ini kemudian dijembatani oleh pemudik yang pulang kampung. Tak jarang lihat, pemudik kemudian membawa sanak saudaranya untuk mengais rejeki dikota. Penduduk desa kemudian terpesona oleh kemilau kota yang melekat dalam diri rekan-rekannya yang merantau dikota.

Proses urbanisasi inilah yang sampai sekarang masih menjadi tradisi bagi penduduk desa yang ingin memperloleh kehidupan yang kebih baik dikota.

1.2 TUJUAN

Siapapun paham orang-orang yang turut dalam rombongan arus balik ke kota bermaksud mengadu nasib dan menjadi kehidupan yang lebih baik dikota-kota besar.

Tujuan lain dimana orang-orang melakukan urbanisasi adalah tersedianya lapangan pekerjaan yang lebih luas dengan harapan bisa mendapatkan pekerjaan yang layak sehingga dapat meningkatkan tingkat perekonomian keluarganya, sedangkan dipedesaan lapangan pekerjaannya sangat terbatas dan kalaupun ada pengahasilan yang diperoleh bekerja didesa tidak sebesar dengan penghasilan kalau bekerja dikota.

Banyak orang-orang yang sehabis sekolah atau pun kuliah yang melakukan urbanisasi dengan harapan bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dibandingkan dengan dipedesaan dan bisa mewujudkan impiannya dengan berhasil.

1.3 SASARAN

Kota merupakan pusat aktivitas yang bilamana seseorang melakukan urbanisasi persentase mendapatkan pekerjaannya lebih besar karena tersedianya banyak lapangan pekerjaan dengan tingkat upah yang lebih besar dibandingkan didesa.

Daerah perkotaan mayoritas didominasi kegiatan ekonomi moderen seperti sektor industri pengolahan perdagangan, komunikasi dan jasa keuangan,mengalami pertumbuhan yang jauh lebih cepat dari daerah pedesaan yang didominasi kegatan ekonomi tradisional.

Hal inilah yang kemudian menjadikan sasaran proses urbanisasi tiap tahun dikota-kota besar makin meningkat.

BAB II

PERMASALAHAN

2.1 KEKUATAN

Urbanisasi merupakan usaha pembangunan yang menyeluruh, tidak terbatas dalam pagar administrasi kota. Selain itu kota dianggap sebagai “agen modernisasi dan perubahan”. Mereka melihat kota sebagai suatu tempat pemusatan modal, keahlian, daya kreasi dan segala macam fasilitas yang mutlak diperlukan bagi pembangunan.

Tanggapan lainnya adalah bahwa kita tidak mungkin membayangkan bagaimana pertumbuhan dan keadaan kota-kota besar sekarang ini dan juga pusat industri didunia lainnya bisa tercapai bila seandainya tidak ada urbanisasi.

Disamping itu, ada suatu kelompok yang mengatakan bahwa kota merupakan suatu sector unggulan dalam perubahan ekonomi, sosial dan polotik. Proses urabanisasi merupakan suatu fenomena temporer yang tidak menghambat pembangunan dan merupakan suatu variable independen yang memajukan pembangunan ekonomi.

2.2 KELEMAHAN

Di dalam urbanisasi banyak juga terdapat tanggapan negatif oleh karena adanya akibat buruk yang timbul karena adanya urbanisasi. Pada negara berkembang, banyak akibat dari urbanisasi yang tidak terkendali yang kota-kotanya tidak siap dalam menyediakan perumahan yang layak bagi seluruh populasinya.Apalagi para migran tersebut kebanyakan kaum miskin yang tidak mampu untuk membangun atau membeli perumahan yang layak bagi mereka sendiri.

Beberapa akibat negatif tersebut akan meningkatkan kriminalitas yang bertambah dan turunnya tingkat kesejahteraan. Arus urbanisasi yang tidak terkendali ini dianggap merusak strategi rencana pembangunan kota dan menghisap fasilitas perkotaan diluar kemampuan pengendali pemerintah kota.

Jumlah penduduk dipedesaan yang terlalu kecil bagi tingkat dan cara produksi,dimana persentase penduduk kota yang sangat besar yang tidak sesuai dengan perkembangan ekonomi negara merupakan dampak-dampak urabanisasi yang tidak terkendali lainnya.

2.3 PELUANG

Kota besar menjadi magnet atraktif bagi tenaga kerja untuk mendapatkan penghidupan yang lebih layak. Beerbagai macam fasilitas dikota – kota besar baik dalam hal ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan hiburan menjadi faktor penarik orang datang ke kota besar dengan pengharapan bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih layak dibandingkan di desa.

2.4 TANTANGAN

Salah satu karakteristik mendasar migran-perdesaan adalah rendahnya kemampuan, keterampilan, dan pengetahuan untuk bisa berkompetisi di sektor formal perkotaan. Sementara biaya hidup yang tinggi di perkotaan menuntut para migran untuk tetap mendapatkan pekerjaan guna menafkahi keluarga yang dibawa atau membantu keluarga di kampung halaman.

Ketidakmerataan pembangunan ekonomi antara perkotaan dan perdesaan telah memunculkan informalisasi kegiatan ekonomi di perkotaan. Sampai kita belum bisa mengurangi ketimpangan pembangunan ekonomi, persoalan urbanisasi, migrasi-internal dan informalisasi ekonomi perkotaan akan terus tercipta.

2.5 SOLUSI

Strategi membangun sektor pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan perlu memberdayakan tenaga kerja di daerah. Melibatkan setiap unsur daerah, penciptaan kewirausahaan daerah dan penjaminan harga merupakan instrumen kebijakan yang perlu dikaji untuk menahan angkatan kerja tidak eksodus ke perkotaan.

Ke depannya kita bisa berharap bahwa migrasi-internal tidak hanya dilakukan oleh low-skill employment, tetapi juga oleh high-skill employment. Tersebarnya tenaga kerja yang memiliki keterampilan tinggi diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi daerah. Membuat pertumbuhan ekonomi nasional menjadi lebih berkualitas dan lebih terdistribusi secara nasional.

BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Urbanisasi merupakan suatu perpindahan penduduk dari desa ke kota. Pertumbuhan urbanisasi ini tiap tahun makin meningkat dikarenakan perbedaan pendapatan antara di desa dan dikota. Dari segi inilah banyak masyarakat yang melakukan urbanisasi bisa memanfaatkan atau menjadikannya peluang bagi mereka untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih layak.

Disamping itu, urbanisasi tidak sama dengan pertumbuhan suatu kota karena urbanisasi merupakan pertumbuhan dari desa menjadi kota. Urbanisasi yang berlebihan dan tidak terkendali dapat mempengaruhi perkembangan suatu kota, hal ini dapat menunjang kegiatan dan pertumbuhanekonomi kota dan bila mana ada suatu masalah dapat dipecahkan dengan adana program dan kebijakan dari pemerintah.

3.2 REKOMENDASI

Masalah urbanisasi ini dapat ditangani dengan membangun desa – desa dengan cara mengurangi tingkat pertambahan penduduk lewat pembatasan kelahiran dengan program keluarga Berencana (KB), memperluas dan mengembangkan lapangan pekerjaan dikota dan pengembangan teknologi menengah bagi masyarakat desa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s