Posted: Februari 25, 2010 in Uncategorized

KISAH SEORANG ANTASARI AZHAR

Setelah melalui beberapa proses pemilihan di Komisi III DPR RI, akhirnya Antasari Azhar terpilih menjadi Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang baru. Direktur Penuntutan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum ini mengantongi 41 suara, mengungguli saingan terberatnya, Chandra M Hamzah yang hanya mengantongi 8 suara. Sedang kandidat lainnya, sama sekali tidak memperoleh suara.

Kepastian Antasari meraih posisi Ketua KPK diperoleh setelah bertarung pada putaran kedua. Pada putaran pertama, lima orang dinyatakan lolos ke putaran kedua dan berhak mengikuti pemilihan Ketua KPK. Pada putaran pertama, Chandra M Hamzah memperoleh suara tertinggi, 44 suara. Di susul Antasari Azhar (37 suara), Bibit Samad Rianto (30 suara), Haryono (30 suara) dan M Yasin (28 suara).

Terpilihnya Antasari sudah diperkirakan banyak pihak. Meski tersangkut berbagai isu, termasuk isu membantu kaburnya Tommy Soeharto dan isu terkait kegemarannya berjudi, tak menghalangi anggota Komisi III DPR RI memilihnya sebagai nakhoda KPK yang baru.

Sepak terjang KPK di bawah kepemimpinan Antasari, sejak 18 Desember 2007, tampak bahwa prestasi KPK cukup membanggakan dalam perang melawan korupsi. Tak sedikit kasus suap maupun korupsi yang ditangani KPK mencengangkan publik. Sebut saja penangkapan anggota Komisi IV Al Amin Nasution oleh tim buru sergap KPK yang tertangkap basah menerima uang suap pejabat daerah Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, Azirwan, untuk persetujuan pelepasan kawasan hutan lindung Pulau Bintan. Lalu, tim buser KPK juga berhasil menangkap Jaksa Urip Tri Gunawan, Ketua Tim Jaksa Penyelidik Kasus BLBI yang secara hukum terbukti bersalah menerima suap sebesar $660.000 atau setara dengan Rp. 7,3 milyar dari Artalyta Suryani dalam kasus BLBI yang melibatkan pemilik Bank BDNI, Syamsul Nursalim.

Masih ada beberapa nama yang berhasil ditangkap atau ditangani KPK seperti Yusuf E. Feisal dan Sarjan Tahir (kasus pelepasan kawasan hutan lindung Pantai Air Telang, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan), Bulyan Rohan (kasus Pembelian Kapal Patroli di Departemen Perhubungan), Anthony Zeidra Abidin, Hamka Yandhu, Burhanuddin Abdullah, dan Aulia Pohan (kasus pengeluaran dana Rp 100 miliar dari BI dan YPPI), dan Billy Sindoro (kasus suap anggota KPPU).

Melihat kasus-kasus yang ditangani KPK, sulit rasanya jika kita hanya terjebak pada ramainya pemberitaan soal cinta segitiga di balik kasus pembunuhan Nasrudin, yang otak pembunuhnya diarahkan pada Antasari. Kita tentu menunggu proses hukum yang jujur, independen, dan kredibel dalam kasus ini. Bisa jadi isu cinta segitiga itu akan terkuak di pengadilan nanti. Tapi, bisa pula Antasari “bernyanyi” bahwa di balik rumor asmara itu terbetik upaya menjebak dirinya sebagai tokoh antikorupsi. Sebab, siapapun yang disangka merencanakan pembunuhan, termasuk Antasari, mengetahui konsekuensinya, yakni terancam hukuman mati. Jika sudah demikian, pengungkapan kasus secara terang-terangan pun bisa jadi akan meluncur dari bibir sang tersangka.

Setelah memenuhi panggilan penyidik sebagai saksi di Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Senin 4 Juli 2009 sekitar pukul 9.50 yang didampingi sejumlah pengacara, dalam hitungan jam, status Antasari sudah berubah menjadi tersangka. Pada pukul 14.00 Antasari diperiksa kembali dalam status tersangka. Tiga jam berselang, penyidik menerbitkan surat perintah penahanan terhadap mantan Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat itu.

Akhirnya AA(Antasari Azhar) pun ditahan, dia didakwa melakukan pembunuhan terhadap Nasrudin Zulkarnaen,yang katanya ada cinta segitiga antara mereka dan sdri. Rani Juliani. Dari Antasari lah masalah berawal. Apalagi kalau bukan konfliknya dengan korban, yang dimulai dari adegan di kamar hotel dengan Rhani Juliani. Nasrudin datang bersama dengan Rhani, lantas merekam pembicaraan antara istrinya itu dan Antasari, untuk kepentingan dirinya diangkat menjadi Direktur PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI). Tidak hanya AA,tetapi banyak juga yang terlibat antara lain, Kombes Williardi Wizard, Sigid dan Jerry hermawa Lo dan para eksekutor lainnya. Pemeriksaan demi pemeriksaan dijalani Mantan ketua KPK itu,dan pada akhirnya setelah melalui beberapa pemeriksaan, berkas BAP AA pun di laporkan oleh POLRI ke Pengadilan.

Sidang demi sidang AA jalanin, fakta demi fakta dihadirkan di persidangan, Antasari juga telah membantah menyerahkan amplop cokelat berisi foto target kepada Wili. Dan mengenai uang, Sigid sendiri mengatakan itu adalah pinjaman untuk sekolah anak Wili, yang lantas diamini oleh mantan Kapolres Jakarta Selatan, itu. Bahkan, dari keterangan saksi-saksi antara lain WW(Williardi Wizard) membantah kalau AA yang merekayasa semua ini “semuanya dikondisikan…” seru WW dalam kesaksiannya di sidang AA.

Dalam tiga kali sidang yang terakhir, Antasari bersama tim pengacaranya menghadirkan dua saksi ahli IT untuk menandingi ahli dari jaksa penuntut umum (JPU). Ahli itu adalah Agung Harsoyo dan Aldo Alfian dari Institut Teknologi Bandung (ITB) bernama Agung Harsoyo dan Aldo Alfian.

Pakar IT tersebut diminta membedah SMS yang diterima Nasrudin pada Februari 2008. Disebut-sebut, nih, SMS itu berisi ancaman dari Antasari. “Bila skandal asmaranya dengan Rhani Juliani terbongkar, Nasrudin akan dihabisi”.

Bahkan, Agung dan Alfian menjelaskan mengenai enam cara kemungkinan pengiriman SMS. Pertama, antara pengirim dan penerima SMS memang sama-sama tahu kalau sedang ber-SMS ria. Kedua, mengirim SMS ke nomor sendiri. Ketiga, mengirim SMS dengan bantuan website. Keempat, mengirim SMS menggunakan BTS palsu yang telah menyadap nomor pengirim ketika tidak aktif. Kelima, dengan cara mengkloning SIM pengirim kemudian mengirim SMS ketika nomor yang dikloning itu tidak aktif. Keenam, yang terakhir, SMS dikirim dengan cara mengorder operator.

Menurut Agung, SMS dapat terkirim tanpa diketahui oleh pemilik nomor. Dia menunjukkan bahwa dua HP yang tidak dipegang oleh pemiliknya dapat saling mengirim dan menerima SMS. Semuanya yang ada diruang sidang tampak berdecak kagum dengan kebolehan Agung.

Dari keterangan saksi-saksi itu, Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang diketuai Cirus Sinaga membacakan tuntutan itu dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, kemarin. Antasari terbukti bersama-sama pengusaha Sigid Haryo Wibisono dan Kombes Wiliardi Wizar membujuk seseorang untuk melakukan pembunuhan berencana terhadap direktur PT Putra Rajawali Banjaran (PRB) Nasrudin Zulkarnen.

Tidak ada hal-hal yang meringankan bagi mantan Direktur Penuntutan Kejaksaan Agung tersebut. Sebaliknya, jaksa membeberkan 10 alasanl yang memberatkan Antasari. Antara lain, dia dinilai telah merusak dan mempermalukan aparat penegak hukum melalui perbuatannya.

Akhirnya, pada tanggal 11 Februari 2010 Majelis Hakim memvonis AA dengan hukuman 18 tahun penjara, Mantan Ketua KPK itu dianggap terbukti ikut serta melakukan pembujukkan dan turut menganjurkan pembunuhan berencana terhadap Nasrudin Zulkanaen.  Pada persidangan yang lain sebelumnya, PN Jakarta Selatan juga sudah memvonis terdakwa otak pembunuhan Nasrudin yang lain. Sigid Haryo Wibisono dihukum 15 tahun penjara, Wiliardi Wizar 12 tahun dan Jerry Hermawan Lo 5 tahun penjara.

Meskipun hukuman yang diberikan Majelis Hakil lebih ringan dari dakwaan JPU berupa hukuman mati, tapi AA tetap melakukan banding karena tetap tidak terima dengan putusan dan mengakui bahwa dirinya tidak bersalah.

Kita liat apakah Majelis Hakim menerima pengajuan banding dari kubu Antasari dan pengacara-pengacaranya?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s