Posted: Februari 25, 2010 in Uncategorized

The Treble Manchester United 1999

Manchester, Inggris…sebagai salah satu kota di Inggris yang mempunyai dua tim yang berbeda yaitu Manchester United dan Manchester City, MU lebih gemilang prestasinya kestimbang tim sekota mereka Manchester CIty. Anda tentu ngga akan lupa dengan apa yang ditunjukan Manchester United pada tahun 98/99? Manchester United, salah satu tim pertama didunia yang mendapatkan gelar tiga Piala sekaligus dalam satu musim, mereka begitu perkasa saat merengkuh tiga trofi, yaitu Liga Primer Inggris, Piala FA dan Liga Champions 1999.

MU dibawah asuhan Alex Ferguson menjadi representasi kekuatan sebuah tim yang nyaris sempurna. Tim dengan perpaduan antara para pemain muda dan pemain tua, para pemain yang begitu gampang dirotasi tanpa mengubah gaya main. Bahkan  mereka yang duduk di bangku cadangan pun bisa melakukan perubahan bila dimainkan.

Perpaduan teknik individu, kolektivitas tim, fighting spirit & permainan offensive football yang luar biasa menjadikan mereka sebagai team competitive.

Sebuah perjalanan panjang dan berliku dengan akhir yang begitu dramatis saat MU menuju puncak kejayaan pada 1999. Di kompetisi Liga Primer, The Red Devils harus memastikan gelar sampai dengan pertandingan pamungkas di akhir kompetisi karena Arsenal menjadi lawan alot dan selalu membayangi perolehan poin MU di peringkat ke dua. Beruntung, MU bisa menang 2-1 atas Tottenham Hotspur di laga terakhir meski sempat ketinggalan lebih dulu untuk memastikan gelar.

One down, two to go. Begitu headline berita hamper disemua media Inggris setelah MU memastikan juara liga Primer. Pasalnya, mereka membidik final Piala FA dan Liga Champions untuk meraih treble. Media Inggris begitu yakin MU bisa meraih tiga gelar dalam satu musim.

Dibandingkan Liga Primer, Piala FA lebih mudah digapai. MU tak kesulitan sedikitpun untuk merengkuh piala FA setelah menang mudah 2-0 atas Newcastle United.

Laga di semifinal melawan Arsenal di Villa Park justru bisa dikatakan lebih dramatis. Dalam kedudukan imbang 1-1, kiper Peter Schmeichel menjadi penyelamat setelah mementahkan tendangan penalti Dennis Bergkamp di menit akhir pertandingan.

Dan, Ryan Giggs yang tengah mencapai peak performance tampil sebagai pahlawan setelah mencetak gol penentu kemenangan bagi MU. Golnya pun luar biasa. Ia melakukan solo run dari tengah lapangan dengan melewati beberapa pemain Arsenal sebelum menaklukkan kiper David Seaman.

Perjalanan paling dramatis ditempuh MU di final Liga Champions di Nou Camp saat bertemu lawan tangguh Bayern Muenchen. Salah satu penguasa Eropa yang memiliki spirit pantang menyerah bak pasukan Panser Jerman.

Namun, MU sesungguhnya tak bisa dipandang sebelah mata oleh Bayern. Keberhasilan Red Devils melaju ke final sudah diperkirakan sejak babak sebelumnya.

Saat memasuki babak knock-out, MU selalu berhadapan dengan tim-tim unggulan dari Serie A Italia Inter Milan dan Juventus. Di perempat-final, Red Devils mengungguli Inter dengan agregat 3-2. Setelah menang 2-0 di kandang, mereka menahan imbang 1-1.

Selanjutnya, Juve yang menjadi lawan di semi-final disingkirkan dengan skor 1-1 dan 3-2. Prinsip masih ada kesempatan sebelum peluit akhir berbunyi menjadi inspirasi pasukan Sir Alex Ferguson.

Di semi-final kedua, MU sudah tertinggal 2-0 dan kemudian skor menjadi 3-1. Namun, mereka secara luar biasa menyamakan kedudukan dan berbalik unggul. Diawali gol Roy Keane, disusul oleh Dwight Yorke dan Andy Cole dan MU pun melenggang ke final.

Mengapa MU bisa melakukannya? Jawabnya, mereka memiliki kepercayaan diri mampu mengatasi situasi sesulit apa pun dan jiwa pantang meyerah mereka yang mereka lakukan sebelum peluit tanda akhir dari pertandingan.

Dan akhirnya, tiba saatnya yang ditunggu-tunggu oleh penduduk Manchester dan penggemar The Red Devils diseluruh dunia untuk menyaksikan final Liga Champions melawan salah satu raksasa Germay,Bayern Munchen. Pertandingan pun dipimpin oleh wasit terbaik dunia saat itu, Perluigi Collina. Mental yang dipertandingan sebelumnya ditunjukan akhirnya ditunjukan pasukan Alex Ferguson di final. Tanpa Scholes dan Keane karena akumulasi kartu kuning, mereka kebobolan lebih dulu di menit-menit awal oleh gol spektakuler Mario Basler melalui tendangan jarak jauh.

Namun gol itu tak membuat mereka kehilangan semangat juang meski waktu yang tersisa tinggal dua menit menjelang peluit berakhir.

Dimenit-menit akhir pertandingan para pemain Red Devils terus melakukan offensive football dengan cara menekan pertahanan Bayern Munchen yang agak rapuh karena pemain belakang andalan Munchen Lothar Matheus digantikan pemain lain beberapa menit sebelum pertandingan berakhir dan sampai terjadilah tendangan pojok bagi Red Devils.

Hasilnya, Luar biasa…pada menit ke-90+1 sepak pojok dari David Beckham membuka jalan bagi Teddy Sheringham untuk menggetarkan jala Oliver Kahn, 1-1 kedudukan imbang. Setelah kedudukan imbang,anak asuhan Alex Ferguson makin percaya diri dan langsung menekan pertahanan Munchen sampai terjadinya tandangan pojok yang kedua bagi MU yang kedua di akhir pertandingan. Beckham pun langsung bersiap untuk melakukan tendangan pojok dari sebelah kanan pertahanan Bayern Munchen. Spektakuler…pada menit ke-90+2 jala Oliver Khan kembali bergetar kali ini oleh Ole Gunnar Solskjaer. Sebelum akhirnya kemudian Collina meniup peluit akhir tanda pertandingan selesai. Semua orang tercengang dan ngga percaya dengan kejadian itu karena hanya dalam waktu 3 menit gawang tim sekelas Bayern Munchen bisa kemasukan 2 gol. Salah satu final terbaik dalam sejarah Liga Champions.

Sebuah teater penuh mimpi di musim 1998/99. Pencapaian yang sulit datang untuk kali kedua dan sulit di ciptakan oleh tim manapun di seantero jagat ini. Dan, skuad yang menjadikan class ’92 sebagai tulang punggung itu disebut-sebut salah satu terbaik yang pernah dimiliki Manchester United sampai dengan sekarang.

Akhirnya saya bisa ngambil kesimpulan kalau apapun bisa terjadi dalam Sepak Bola, semoga ini bisa dijadikan pelajaran bagi para anak bangsa seluruh Indonesia.

Tim inti Manchester United di final Liga Champions 1999
Formasi 4-4-2

1. Kiper : Peter Schmeichel

2. Bek : Gary Neville, Ronny Johnsen, Jaap Stam, Denis Irwin

3. Tengah : David Beckham, Nicky Butt, Ryan Giggs, Jesper Blomqvist

4. Striker : Dwight Yorke, Andy Cole

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s