Posted: Maret 19, 2010 in Uncategorized

MAKALAH

ILMU BUDAYA DASAR (IBD)

UNIVERSITAS GUNADARMA

KAMPUS J KALIMALANG

Mata Kuliah  :  Ilmu Budaya Dasar (IBD)

Dosen  :  Muhamad Burhan Amin

Topik Tugas  :  Aktifitas Pertanian Mulai Kurang Diminati Oleh Generasi Muda Berkualitas

Kelas : 1KA26

Dateline Tugas  :  19 Maret 2010

Tanggal Penyerahan dan Upload Tugas : 19 Maret 2010

PERNYATAAN

Dengan ini kami menyatakan bahwa seluruh pekerjaan dalam tugas ini kami buat sendiri tanpa meniru atau mengutip dari tim/pihak lain.

Apabila terbukti tidak benar, kami siap menerima konsekuensi untuk mendapat nilai 1/100 untuk mata kuliah ini.

Penyusun

NPM Nama Lengkap Tanda Tangan
10109410 ANDRY RISNANDAR

Program Sarjana Manajemen Sistem Informasi

UNIVERSITAS GUNADARMA

Tahun 2010


KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT, atas berkat rahmat dan ridho nya saya dapat menyelesaikan pembuatan makalah Aktifitas Pertanian Mulai Kurang Diminati Oleh Generasi Muda Berkualitas.

Tantangan berat bagi Perguruan tinggi bidang pertanian saat ini adalah semakin kurang diminatinya bidang pertanian (pertanian secara umum) oleh kalangan generasi muda termasuk para lulusan SMA. Fakta menurunnya minat lulusan SMA memilih bidang pertanian ini tentunya akan berpengaruh pada masa depan bangsa, sehingga harus segera dicarikan solusinya.

Di desa pun, kaum muda yang umumnya lahir dan dibesarkan di keluarga petani, sebagian besar enggan untuk melanjutkan profesi orang tua mereka untuk menjadi petani. Mereka lebih memilih pekerjaan ‘non tanah’ sebagai sumber penghidupan. Misalnya menjadi buruh pabrik, kuli bangunan, atau tukang ojek. Sebagian dari mereka tergoda untuk pergi mengadu nasib di kota macam Jakarta. Hal ini bisa dilihat diantaranya dari fenomena urbanisasi tahunan pasca lebaran. Puluhan ribu orang dari desa berbondong-bondong ke kota. Di kota mereka biasanya bekerja di sektor informal seperti pedagang kaki lima, pembantu rumah tangga, menjadi buruh bangunan, adapula yang terpaksa menjadi pengamen jalanan.

DAFTAR ISI

PERNYATAAN……………………………………….………………………………..………………2

KATA PENGANTAR….……….………………………………………….……………………….….3

DAFTAR ISI………………………………..……………………………….………………………….4

BAB I PENDAHULUAN……..………………………………………………………………………..5

1.1 LATAR BELAKANG……………………………………………………………..………………..5

1.2 TUJUAN……..…………………………………….………………………………………………5

1.3 SASARAN……………………………………………………………………………..…………..6

BAB II PERMASALAHAN…………………………………………………………………….…….7

2.1 KEKUATAN………………….…………………………………………………………………….7

2.2 KELEMAHAN……………….…………………………………………………………………….7

2.3 PELUANG…………………………………………………………………………………………..7

2.4 TANTANGAN…………….………………………………………………………….……………8

2.5 SOLUSI……………………..………………………………………………………………………8

BAB III PENUTUP…………………………………………………………………….………………9

3.1 KESIMPULAN………………………………………………………………….………………….9

3.2 REKOMENDASI………………………………………………………………..…………………9

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Sejarah mencatat, krisis global yang terjadi tahun lalu turut memukul industri kita yang kemudian mengancam terjadi ledakan pengangguran besar-besaran. Namun sebagai bangsa agraris, sektor pertanian di saat seperti ini harusnya menjadi basis utama perekonomian rakyat.  Kesempatan kerja di sektor pertanian mestinya lebih terbuka luas. Angkatan kerja pertanian juga harusnya lebih banyak dibanding angkatan kerja sektor lainnya.

Harapan itu tidak berlebihan. Delapan puluh persen penduduk Indonesia bermukim di pedesaan dengan lahan pertanian praktis berada di wilayah pedesaan. Di tengah masalah klasik pengangguran, sektor pertanian menawarkan peluang kerja yang terbuka lebar. Namun, sektor andalan negeri agraris ini ternyata belum menarik minat angkatan kerja potensial kita.

Di ranah pendidikan, kian sedikit para lulusan SMA yang memilih pertanian sebagai bidang studi yang mereka geluti. Fenomena ini begitu ironi, pertanian yang merupakan sumber utama kehidupan masyarakat Indonesia kini bidang studinya makin kurang diminati.

Ironi ini berlanjut ketika para sarjana lulusan studi pertanian banyak yang memilih pekerjaan non pertanian. Bidang seperti perbankan lebih mereka minati dari pada pertanian. Banyak yang berpendapat bahwa meski kuliah di bidang pertanian, pilihan karir di bidang selain pertanian tetap lebih menjanjikan. Sementara saya sendiri punya argumen sederhana, jika setelah para Sarjana Pertanian lulus itu dengan sengaja memilih karir di bidang non pertanian, lantas mau dikemanakan ilmu yang bertahun-tahun mereka dalami di bangku kuliah. Belum lagi jika memikirkan pertanian Indonesia yang membutuhkan banyak tenaga ahli, jika bukan mereka yang lulusan dari studi pertanian, siapa lagi? Namun mereka tetap keukeuh berpendapat bahwa kuliah pertanian yang selama empat tahun yang di jalaninya hanya fondasi awal dalam pemilihan karir mereka ke depan.

1.2 TUJUAN

Hampir kebanyakan lahan di Indonesia ini adalah tanah yang bisa digunakan dan dijadikan ladang buat masyarakat Indonesia buat bercocok tanam, bertani ataupun yang lainnya. Kita sebagai salah satu dari sekian banyak masyarakat Indonesia tentu bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk dijadikan peluang buat kita melakukan aktifitas pertanian yang sekarang ini mulai kurang diminati oleh para generasi muda se-usia kita.

1.3 SASARAN

Lahan – lahan yang kosong yang belum di kelola oleh yang punya bisa kita melakukan kerjasama dan jadikan lahan itu buat kita melakukan aktifitas bertani, apalagi kita hampir sebagian tinggal di Pulau Jawa yang mayoritas penghasilan atau pendapatan daerah berasal dari lahan pertanian.

BAB II

PERMASALAHAN

2.1 KEKUATAN

  • Hampir mayoritas lahan – lahan yang ada di Indonesia di manfaatkan buat lahan pertanian.
  • Kita sudah tahu bahwa mayoritas pendapatan bangsa kita berasal dari ladang pertanian, ini bisa dijadikan acuan buat kita agar kita bisa lebih meningkatkan aktifitas di bidang pertanian.
  • Rasa nasionalisme bangga terhadap potensi lokal bangsa sendiri harus dibangkitkan.

2.2 KELEMAHAN

  • Pertanian diidentikkan sebagai pekarjaan keras dan pekerjaan yang berpenghasilan pas – pasan.
  • Banyak para petani di Indonesia yang mengeluh dengan harga jual komoditi yang murah, gagal panen, kesulitan mendapatkan pupuk dan tidak mampu membasmi serangan hama.
  • Lahan pertanian moderen dengan tanaman yang luas-kelapa sawit, karet, tebu, kakao atau tembakau dan lainnya-masih dikuasi segelintir pemodal atau korporasi dengan investasi besar. Sedangkan kantung-kantung pertanian yang dikuasai rakyat tidak pernah berkembang sebagai sebuah usaha. Pertanian yang diusahai rakyat cenderung berlangsung secara tradisional dan konvensional.
  • Banyak kebijakan pemerintah yang tidak pro-petani (petani tidak difasilitasi kebutuhan sarana produksinya, harga jual hasil pertanian dipermainkan tengkulak), sehingga tingkat kesejahteraan petani sangat rendah, berusaha di bidang pertanian dinilai tidak menjanjikan dan tidak menarik lagi bagi generasi muda.
  • Penguasaan ilmu mahasiswa S-1 pertanian dirasakan terlalu spesifik, bersifat monodisiplin, dan lebih berorientasi pada aspek pendalaman ilmu (teoritis saja).

2.3 PELUANG

  • Makanan pokok masyarakat Indonesia adalah nasi atau beras, rasanya beras ini mau ngga mau harus bisa memenuhi kebutuhan akan ini tiap tahunnya, persoalan ini bisa dijadikan peluang buat kita dengan cara kita lebih meningkatkan lagi produksi beras atau padi.
  • Masih banyak tanah-tanah atau lahan-lahan yang belum tergarap oleh si pemilik, lantaran bisa jadi kekurangan atau ngga ada buat modalnya. Ini juga bisa kita jadikan peluang dengan cara kita mengenalkan yang namanya adanya koperasi kepada para petani.
  • Delapan puluh persen penduduk Indonesia bermukim di pedesaan dengan lahan pertanian praktis berada di wilayah pedesaan. Di tengah masalah klasik pengangguran, sektor pertanian menawarkan peluang kerja yang terbuka lebar.

2.4 TANTANGAN

  • Kian sedikit para lulusan SMA yang memilin melanjutkan pendidikan atau kuliah dibidang pertanian, ini dibuktikan tiap tahunnya dalam seleksi nasional perguruan tinggi, hampir 50% nya pada program studi pertanian kosong atau tidak terisi.
  • Kebutuhan akan para lulusan mahasiswa – mahasiswi jurusan pertanian menjadi sangat penting karena sekarang banyak para lulusan S1 pertanian yang malahan memilih berkarir di bidang selain pertanian yang mereka anggap lebih menjanjikan.

2.5 SOLUSI

  • Teknologi pertanian modern dari hulu sampai hilir harus dikedepankan, dan diprioritaskan untuk mengembangkan potensi hasil pertanian lokal.
  • Upaya membangkitkan rasa nasionalisme bangsa harus digelorakan kembali.
  • Pendidikan kewirausahaan, kemandirian, dan kepemimpinan harus diprioritaskan.

BAB III

PENUTUP

3.1 PENUTUP

  • Negara kita negara agraris, yang hampir mayoritas lahannya atau pendapatan pemerintah berasal dari pertanian. Dengan kita memperhatikan kata – kata ini, marilah kita sebagai mahasiswa mengarahkan para generasi muda kita akan pentingnya kita mengelola atau memaksimalkan lahan pertanian di negara kita.
  • Dibutuhkan perhatian, kepedulian, tekad yang kuat dan partisipasi semua pihak, yaitu lembaga pendidikan mulai dari TK, SD, SMP, SMA/K dan perguruan tinggi, Pemerintah Pusat dan Daerah dan Masyarakat (termasuk pelaku bisnis / tengkulak dan sejenisnya) bahwa image menjadi petani modern yang sukses, dibanggakan, dan merupakan pekerjaan mulia haruslah dibangun sejak dini melalui pendidikan.

3.2 REKOMENDASI

  • Peran pemerintah dituntut aktif dalam menangani masalah dalam bidang pertanian ini, misalkan dengan cara menyediakan dan memudahkan proses koperasi bagi para petani yang ngga punya modal buat mengelola lahan mereka atau biasa dikenal dengan sebutan bertani.
  • Pemerintah juga diwajibkan buat menstabilkan harga penjualan komoditi para petani karena itu bisa dijadikan acuan buat penyemangat para petani.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s